|
Minggu lalu seperti biasa saya telepon ke rumah utk mengetahui bagaimana kabar sanak saudara. Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat wal'afiat walopun beberapa diantaranya sedang terserang sakit tenggorokan dan pilek. Katanya krn perubahan cuaca dari panas ke musim hujan. Berhubung wkt itu kita anak˛nya tdk mengerti hal˛ ttg birokrasi tanah warisan, jadinya kita diamkan saja. Baru 3 tahun terakhir kita berusaha utk mengurusnya dan ingin mengubahnya menjadi sertifikat yg resmi. Apalagi ada bbrp org yg berusaha mengancam utk mengklaim tanah warisan itu. Rupanya prosedur utk kesana tdk semudah membalik telapak tangan. Kalau diurutkan ke mana saja adik saya harus menghadap, benar˛ tdk habis pikir. Betapa sulit dan rumitnya utk mengurus selembar surat yg sampai saat ini belum juga selesai, krn selain birokrasi yg spt ular naga kita juga agak sedikit terbentur dgn biaya. Kemarin adik saya sempat bercerita bhw dia sdh muak dan capek berhadapan dgn aparat pemerintah, seperti pak Lurah dan pak Camat, belum lagi nanti pihak Bbpn dan sejenisnya. Satu tahun yg lalu adik saya sempat menghadap pak Lurah Depok (tempat tanah warisan), saat itu adik saya hampir saja naik pitam krn pak Lurah dgn seenaknya menyebut sejumlah uang utk sekedar sebuah tanda tangan, besarnya 2,5 juta. Krn butuh akhirnya adik saya berusaha utk bernegosiasi, rupanya pak Lurah tetap keukeh, tdk mau turun harga tanda-tangannya dan pergi begitu saja meninggalkan adik saya. Mau tdk mau minggu lalu adik saya pergi lagi ke arah Depok lagi, kali ini ke kantor kecamatan. Menurut cerita, katanya surat bisa langsung diurus ke kecamatan tanpa melalui kelurahan. Tito sdh berusaha menyiapkan mental menghadapi aparat yg berjiwa korup. Sampai disana, dia tdk bisa langsung bertemu pak camat krn beliau belum datang. Jadi hanya pegawai dikantor tersebut yg melayaninya dan harus menunggu sang pajabat tiba. Bbrp pegawai kecamatan berusaha mengorek dan memancing keterangan dari Tito, apakah tanah warisan itu mau dijual (iiihhh...kok usil yah mereka). Alhamdulillah Tito bisa bersikap ramah dan menjawab pertanyaan mereka apa adanya, bhw tanah itu tdk akan dijual. Soale kalau salah ngomong kita pasti akan kena "getok" dlm hal biaya administrasinya. Setelah surat˛ dicek oleh seorg pegawai, tiba˛ petugas itu berkata bhw utk mengurus kelangsungan surat dibutuhkan tt pak Lurah. Tito berusaha berdebat krn katanya bisa diurus langsung ke kecamatan. Petugas kecamatan tidak mau menerangkan lebih lanjut dan menganjurkan Tito utk mendptkan tt pak Lurah. Krn kesal merasa dipingpong kesana-sini, akhirnya Tito berjalan menuju keluar utk mencari udara segar dan rupanya tanpa disangka dia bertemu Pak Lurah di tempat tersebut. Disitu Tito berusaha menerangkan maksudnya dan lagi˛ hrs tawar menawar. Saya bisa membayangkan betapa menyebalkan acara tawar menawar harga dgn pejabat yg seharusnya melayani kita secara "gratis" . Setelah harga cocok, adik saya disuruh datang ke kelurahan keesokan harinya. Baru pukul 3 sore pak Camat tiba dikantornya, wwwoooowww...hebat bukan, tapi sebenarnya itu bukan hal baru. Banyak pejabat masuk ke kantornya selalu telaaat. Setelah menunggu bbrp lama akhirnya Tito bisa berbicara langsung dgn pak Camat. Dan lagi˛ Tito dipancing apakah tanah itu akan dijual, mengulur˛ pembicaraan, seolah˛ tanpa dia kita tdk bisa berbuat apa˛. Kemudian pembicaraan berganti ke arah tarif tanda tangan. Waktu mendengar cerita Tito berapa tarif tt pak Camat, saya cuma bisa meringis. Apalagi pak Camat berkata bhw itu sdh menjadi peraturan dan tertulis. Langsung saya tertawak ngakak, tidak habis pikir, geleng˛ kepala dan merasa aneh bhw sekarang pak Camat memasang tarif utk sebuah tt. Adik saya membaca sendiri peraturan tersebut yg tergeletak diatas meja pak Camat, yg isinya bhw kita hrs membayar 1% dari NJOP (nilai jual objek pajak atau tanah) tp Tito tidak tahu apakah itu peraturan resmi atau tdk, benar˛ peraturan yg aneh. Bukankah tugas mereka melayani masyarakat, selain itu mereka juga sdh mendapatkan gaji resmi. Saya tdk yakin ada peraturan semacam itu dan merasa bahwa itu hanya akal˛an pak Camat saja. Lalu adik saya berusaha nego harga, tarik ulur pembicaraan dgn pak Camat (masak peraturan bisa dinego sih ???). Ujung˛nya adik saya hrs keluar uang hampir 4 juta, cuma utk sebuah tanda tangan, tanpa ada bukti pembayaran dari kecamatan, padahal katanya itu sdh menjadi peraturan resmi. Untuk tanda tangan pak Lurah, adik saya harus membayar 1,5 juta. Itu pun sempat tertahan krn ternyata pak Lurah salah menyebutkan tarif dan tdk mau menerima Tito secara langsung (mungkin malu krn salah nyebut tarif) dan menyuruh sekretarisnya. Untungnya sang sekretaris tdk mau mengabulkan permintaan atasannya utk meminta uang tambahan ke Tito krn dia tahu bhw biasanya besar biaya "tempel" hanya 500 ribu. Ibu sekretaris berbicara langsung ke Tito bhw biaya yg dia bayar sdh termasuk besar dan biasanya pak Lurah menahan urusan tersebut hingga ke akhir masa jabatan. Jadi nanti org yg berusaha mendptkan tt pak Lurah hrs mengurus dan membayar 2x, yaitu biaya tt Lurah yg Lama dan biaya tt Lurah yg baru. Untungnya adik saya ulet, jadi surat tdk tertahan lama. Apalagi kata ibu Sekretaris sebentar lagi masa jabatan pak Lurah akan berganti. Pfuuuiiih.......untung aja tt sdh didpt. Rupanya trik seperti itu sudah biasa dilakukan dibanyak kantor pejabat pemerintahan. Sekarang surat sertifikat tanah baru 1/2 jadi, tinggal mengurus ke bbrp instansi selanjutnya dan itu hrs menunggu utk beberapa saat krn kita hrs mempersiapkan mental dan dana yg kali ini akan lebih besar dari yg sebelumnya.
|
| aden June 20, 2009 01:42 AM PDT pusing ya | ||
| linae December 30, 2007 05:21 PM PST percaya deh kalo kek gituan di indonesia. dulu, pas mo nikah di indonesia aja dibikin susah, mas ku mo bikin ktp dipersulit ama pak lurahnya kok, disuruh mbayar 3 juta, itu baru lurah doang, ntar kalo sampe kecamatan? huh! cabe dey ama yang namanya korupsi, hiks. | ||
| Diah December 3, 2007 05:11 PM PST Assalamualaykum wr.wb Aku enggak tahu apa nomor telpnya sudah berubah atau belum, sebelum telp, tolong dicek dulu yah. Inik ada nomor telp dan data yg bisa dihubungi jika menghadapi hal˛ spt ini (korupsi) : KPK = Komisi Pembrantas Korupsi. Telp : 021-23549141 Fax : 021-3846122 sms : 0811959575 / 08558575575 Email : Pengaduan@kpk.go.id Jln. veteran III no : 2 jkt 10110 Data ini aku dapat dari mencari di internet, krn u/ pegangan aku saja, kalo ada di Indo lalu berhadapan dg kasus korupsi / uang tak terduga. Tapi sebelum menghubungi sebaiknya di cek dulu apakah data tersebut belum berubah atau sudah berubah wassalam, mbak diah | ||
| Leave a Comment: |